Aku fikir dunia ini masih waras untuk aku singgahi tapi ternyata aku salah, saking tua-nya dunia ini banyak cerita aneh yang tak masuk logika terjadi bahkan sangat mencengangkan untuk aku pahami. Apakah sebenarnya yang salah disini? Pendidikan moral-kah yang telah menurun? atau memang sudah tak ada lagi perhatian dari orang-orang yang patut dijadikan panutan? Tuhan pantas untuk marah dan timbul-lah kejadian bencana alam dimana-mana. Ya, apalagi jika bukan karena Human Eror tetapi anehnya tak ada satupun yang mau bertanggung jawab, mereka hanya sibuk melempar batu dan saling menyalahkan satu sama lain. Tak hanya masalah lingkungan saja yang makin hari makin membuat kepala mendidih, tapi juga masalah kemerosotan moral dari setiap kalangan. Parahnya perilaku itu di lakukan oleh anak-anak muda di usia dini. Kalau sudah begini siapa yang bersalah? tapi percuma mencari siapa yang benar dan siapa yang salah, karena tak ada jawabnya karena ada pepatah berkata "Engkau tak dapat melihat kesalahan seseorang dimata tetanggamu sendiri melainkan pada dirimu sendiri".
Dimanapun aku melangkah pasti aku temui banyak kasus atau kejadian yang menurutku itu sangat memilukan bathin. Anak SMP yang mulai merokok dan absen dari sekolah, kumpulan anak SMA yang berkunjung ke warnet hanya untuk membuka situs porno, uang SPP habis untuk membeli narkoba, minuman keras, dll. Nasihat yang lemah lembut pun dari orang tua tak jarang di acuhkannya. Hingga kemarin aku membuat skripsi di waktu kuliah tentang masalah moral ternyata sekarang terbukti kemerosotan moral semakin terlihat jelas di depan mata, tugas guru tak hanya mengajar materi pelajaran saja melainkan juga membina dan membimbing serta mengarahkan moral mereka untuk lebih baik lagi. Ini membuat aku belum siap menjadi seorang pengajar ada banyak ketakutan dalam diri, jika hanya sekedar mengajar mudah bagi ku berikan materi sesuai dengan mata pelajaran dan dengan durasi waktu yang telah ditentukan, buat soal test dlsb. Tapi apakah aku bisa membina, membimbing, serta mengarahkan moral anak-anak didik ku nanti ke masa depan? karena pertanggung jawaban untuk menjadi seorang pendidik sangat besar sedikit saja berbuat atau berperilaku menyimpang hilanglah kewibawaannya. Itu aku rasakan ketika sewaktu aku PPL dulu di sekolah, terasa sangat begitu berat tugas yang di emban guru, dosen atau tenaga pendidik lainnya sungguh menguras emosi dan kesabaran. Tapi satu saat nanti mungkin aku siap untuk menjalaninya karena waktu tak bisa menunggu orang yang terlambat, justru yang menggilas orang-orang yang terlambat adalah waktu. Semoga Berkahi langkah dalam cita-cita dan mimpi ku. Amiin.
Komentar
Posting Komentar